BOB SADINO
Beliau bernama
lengkap Bob Sadino. Lahir di Lampung 9 Maret 1933 dan telah wafat pada 19
Januari 2015. Beliau merupakan salah satu pengusaha sukses di tanah air yang
bergerak di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik brand Kemchick dan
Kemfood. Dalam banyak kesempatan, Ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan
pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Penampilan ini bahkan kerap
membuat sebagian orang tidak pernah menyangka jika Bob Sadino adalah seorang
pengusaha yang sangat sukses.
Di dalam perjalanan
kariernya, Bob Sadino pernah mengalami pasang surut yang membuatnya benar-benar
dalam keterpurukan. Beliau bahkan pernah bekerja sebagai kuli bangunan yang
upahnya hanya sebesar Rp 100,- per harinya. Kondisi ini membuat dirinya dan
keluarga mengalami masa yang sangat sulit. Namun berkat saran seorang teman, Ia
akhirnya memulai peruntungan dalam dunia bisnis, yang diawali dengan berbisnis
telur ayam negeri. Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke
agribisnis khususnya holtikultura, mengelola kebun sayur untuk konsumsi orang
asing di Indonesia.
Bob percaya bahwa
setiap langkah sukses selalu diawali dengan kegagalan demi kegagalan.
Perjalanan wirausahanya tidak semulus yang dikira. Baginya uang bukan nomor
satu, yang terpenting itu adanya kemauan, komitmen, berani mencari, dan
menangkap peluang. Menurutnya yang terpenting dalam memulai sebuah bisnis
adalah tindakan. Saat kita terjun langsung ke lapangan kita akan mengetahui
bagaimana keadaan pasar dan berusaha untuk melewati tantangan untuk menciptakan
sebuah peluang.
NAJWA SHIHAB
Najwa Shihab atau yang
akrab disapa Nana merupakan wanita kelahiran Makassar pada 16 September 1977.
Mba Nana merupakan putri pasangan ulama terkemuka Quraish Shihab dan Fatmawati
Assegaf, yang memilih karir sebagai seorang jurnalis dibanding terjun ke dunia
hukum. Padahal ia adalah Sarjana Hukum lulusan Universitas Indonesia
tahun 2000.
Satu tahun setelah
lulus kuliah, Mba Nana memulai karir di dunia jurnalistik di stasiun Metro TV.
Awal karir ia menjadi reporter yang bertugas melakukan peliputan berita di lapangan.
Peningkatan karirnya terus berlangsung, kini ia diangkat menjadi pembawa berita
news anchor. Karena sifat tidak mudah puas dalam menekuni suatu hal dan
selalu ingin belajar membuatnya selalu meriset, mempelajari, dan memperbaiki
semua hal yang berkaitan dengan acara yang dipimpin oleh dirinya. Karier Mba
Nana semakin cemerlang di stasiun TV, lewat program Mata Najwa ia berhasil
memukau penonton dengan pertanyaan-pertanyaan kritis, tajam, serta
kecerdasannya dalam mengupas isu-isu terkini. Program andalan tersebut meraih berbagai
macam penghargaan.
Mba Nana memutuskan
mundur dari Metro TV pada Agustus 2017. Keluar dari zona nyaman dan mencari
tantangan baru. Kali ini YouTube yang dipilih sebagai media baru untuk
menyalurkan passion-nya. Alasannya karena ia harus bisa mengikuti
perkembangan teknologi dengan menyuguhkan konten-konten positif dan
berkualitas. Melalui televisi digital Narasi TV, penonton akan diajak
menyaksikan program-program perbincangan, reportase, kemasan dokumenter, opini,
dan ruang interaksi. Tentu ini merupakan pengalaman baru baginya karena
saat ini menggunakan platform media sosial YouTube.
Perjalanan karier dan hidup Najwa Shihab dapat menjadi inspirasi bagi para jurnalis muda yang ingin berkarya. Dengan ketekunan, konsistensi, dan minat untuk terus belajar menjadi modal agar sukses berkarier di bidang apapun. Jalanai, nikmati, dan syukuri apa yang kalian kerjakan hari karena suatu saat kalian pasti akan sampai di titik tertinggi versi diri kalian masing-masing. Jangan takut untuk mencoba hal baru, dan lakukanlah apa yang ingin kalian kerjakan dengan semangat pantang menyerah.
CHAIRUL TANJUNG
Chairul Tanjung,
lelaki kelahiran Jakarta 16 Juni 1962 ini merupakan seorang pengusaha sukses
asal Indonesia. Masa kecil Chairul Tanjung sangat jauh dari gelimang harta. Dulu,
ayahnya bekerja sebagai wartawan media cetak pada era Orde Lama. Kondisi keuangan
keluarga kian memburuk ketika perusahaan tempat ayahnya bekerja ditutup
pemerintah saat itu. Keadaan ekonomi yang susah membuatnya harus menjual rumah
guna mencukupi kebutuhan. Mereka pun tidur di suatu losmen kecil dan penuh
sesak.
Chairul Tanjung melanjutkan
jenjang pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran Gigi UI. Ia berhasil meraih
gelar sarjana pada 1987, lalu melanjutkan jenjang magister di Institut
Pendidikan serta Pembinaan Manajemen pada 1993. Untuk membiayai pendidikannya,
ia berjualan buku kuliah hingga kaos dan membuka jasa fotokopi. Chairul Tanjung
juga pernah membuka toko yang menjual alat kedokteran serta alat laboratorium. Namun,
karena suatu hal bisnis tersebut bangkrut.
Setelah lulus kuliah,
Chairul bersama dengan tiga rekannya mulai merintis sebuah bisnis ekspor sepatu
anak yang diberi nama PT Pariati Shindutama. Modal awal sebesar Rp 150 juta
yang dipinjam dari bank. Bisnis ini mulai maju, bahkan pernah mendapat pesanan
dari Italia sebanyak 160 ribu pasang sepatu. Akan tetapi, Chairul Tanjung
memutuskan untuk keluar dari perusahaan.
Pada 1987, Chairul
Tanjung mendirikan bisnis sendiri yang diberi nama Para Group yang kini
berganti nama menjadi CT Corp. Perusahaan ini mampu membeli Bank Karman tahun
1996 yang saat ini namanya berubah menjadi Bank Mega. Chairul Tanjung tidak
hanya berhasil di sektor keuangan, namun juga mendirikan bisnis media. Ia mampu
mendirikan Trans Tv dan pada 2006 mengakuisisi TV7 milik Kompas Gramedia. Sejak
saat itu, TV7 berubah menjadi Trans7. Ia memisahkan perusahaannya di sektor
media pada tahun 2013 dengan mendirikam Trans Media.
Chariul Tanjung adalah sosok yang memiliki semangat serta komitmen tinggi. Menurutnya, pebisnis haruslah memiliki target kelas dan pantang menyerah. Prinsip ini harus tetap menjadi pegangan sekalipun dalam keadaan sulit. Berkat kegigihannya dalam memulai sebuah bisnis, kini ia telah menajadi salah satu orang terkaya di Indonesia.
MARTHA TILAAR
Martha Tilaar
memiliki nama lahir Martha Handana, lahir di Gombong, Jawa Tengah pada 4
Setember 1937. Martha Tilaar merupakan salah satu tokoh wanita paling
inspiratif di tanah air. Tidak hanya sukses sebagai pebisnis kosmetik, wanita
ini juga sukses membangun Prama Pratiwi Martha Gallery sebuah pusat kerajinan
di Sentolo, Yogyakarta. Ketika orang lain mengatakan tidak mungkin, ia tetap
mencobanya. Menurutnya yang terpenting bukanlah hambatan di depan kita, tapi
bagaimana kita memecahkan masalah yang ada.
Dengan modal uang 1
juta rupiah yang berasal dari uang saku dan sumbangan keluarganya, pada awal 1970
ia mendirikan Martha’s Salon. Salon kecil itu akhirnya berkembang menjadi lima
buah. Pada 1972 Martha pergi ke Eropa untuk mempelajari ramu-ramuan dengan mengunjungi
beberapa pabrik seperti Yves Rocher di Prancis, Mary Quant di Inggris, dan Hertleben
di Jerman Barat. Empat tahun kemudian ia kembali ke Indonesia dan mendirikan
Martha Griya Salon yang memperkenalkan perawatan tradisional.
Usaha tersebut kian
berkembang pesat dengan berdirinya pabrik kosmetik PT Sari Ayu, Martha Kosmetik
Indonesia pada tahun 1981. Bisnis Martha terus berkembang dengan mengakuisisi
sejumlah perusahaan, hingga akhirnya ia dan keluarga menguasai sepenuhnya saham
PT Martina Berto, dan bersamaan dengan itu dilakukan konsolodasi perusahaan
dengan digabungkan dalam Martha Tilaar Group.
ANNE AVANTIE
Anne lahir pada 20
Mei 1954 di Semarang dan kemudian menghabiskan masa kecilnya di kota Solo. Anne
Avantie menjadi salah satu desainer ternama di tanah air, karyanya bahkan
sangat disukai oleh para tokoh ternama Indonesia hingga mancanegara. Lahir di
tengah-tengah keluarga yang sangat sederhana, pada awalnya Anne kecil tidak
berani bermimpi untuk menjadi seorang desainer. Ibunya yang ahli dalam bidang
menjahit mewariskan bakat tersebut kepada Anne.
Kegemaran Anne pada
dunia fashion sudah tampak sejak SD. Saat itu ia menunjukkan kebolehannya
dengan membuat hiasan rambut hasil kreasinya sendiri. Anne pun terus
mengembangkan talenta terpendamnya itu. Kemampuan merancang busana mendatangkan peluang
yang lebih besar ke dirinya. Namun, jalan hidup Anne tidak semulus yang
dibayangkan orang-orang. Ia hanya mengeyam pendidikan sampai bangku SMP, dan
menjadikan itu masa-masa sulit untuk dirinya. Untungnya ia memiliki ibu yang
selalu menguatkannya. Ia terang-terangan mengakui bahwa ibunya adalah inspirasi
hidupnya. Sebab dari ibunya, ia belajar banyak hal hingga tumbuh menjadi wanita
berbakat.
Pada tahun 1989, Anne membangun usaha menjahit
di rumah kontrakan dengan modal 2 mesin jahit. Tempat usaha pertamanya itu
diberi nama Griya Busana Permatasari. Upaya dalam membangun usaha tersebut
tidak berjalan mulus. Anne pernah dihina dan dipojokkan karena merancang gaun
malam. Kondisi finansialnya juga sempat terpuruk. Terlebih saat tahun 1998,
tempat usaha yang dibangunnya jadi sasaran amuk oknum tidak dikenal. Dengan
segala tekad dan kegigihannya dalam meniti karier tahun 2010 Anne memiliki dua
butik di Mall Kelapa Gading dan Roemah Penganten di Grand Indonesia. Selain itu
Anne juga memiliki toko bernama Pendopo yang menjual produk seni dalam negeri
hasil karya usaha kecil menengah (UKM).